This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 23 April 2015

1 Daun untuk 101 Khasiat

Tatar Bandung Raya bisa menjadi kawasan ideal pengembangan tumbuhan daun afrika (Vernonia amygdalina Del).
Kebanyakan orang berpikir bahwa tanaman ini cocok di tempat panas, dataran rendah. Yang terpikir soal afrika adalah daerah panas yang bikin gosong. Padahal di afrika ada gunung Kilimanjaro dengan puncak es abadi.

Mengapa Tataran Bandung penting bagi usaha tani pohon daun afrika?
  1. Di habitat aslinya pohon daun afrika ini tumbuh pada ketinggian lebih dari 1500 m dpl. Bandung kota hanya plus minus 700 m dpl, sesungguhnya masih kurang ideal. Di halaman saya, perdu berkayu ini mampu berbunga, waktunya di sekitar akhir tahun, tetapi gagal berbuah. Bunga-bunga mengering setelah semerbak sejenak. Di tempat yang rendah, seperti Jakarta dan Tangerang serta Medan, hampir semua pemilik pohon, tidak pernah melihat pohon daun afrika miliknya berbunga. Wangi bunga berwarna putih ini mirip melati tetapi lebih lembut dan kurang merebak. Jika mendapatkan lahan ideal, pohon daun afrika ini akan berbuah, dan orang akan berebut mencoba khasiat afrodisiak, obat kuat, gitu.
  2. Bandung tempat bercokol beberapa perguruan tinggi yang memiliki kompetensi terkait pengembangan produk dan produksi. Ada ITB yang merupakan perintis pendidikan sains di Indonesia; ada Unpad yang fakultas farmasinya cukup eksis dalam menghasilkan formula obat herbal terstandar; ada Unpas yang bidang teknologi pangannya cukup menonjol. 
  3. Pada level perdagangan, di Bandung juga banyak toko herbal dan jamu yang telah lahir dan tumbuh puluhan tahun, masing-masing memiliki pelanggan yang bejibun, tidak hanya warga kota, tetapi datang dari luar kota. Salasatu yang terkenal, sudah tumbuh 3 generasi, adalah toko bahan jamu Babah Kuya. Keberadaan toko-toko besar ini mempermudah akses kepada para pengobat alternatif atau pengguna langsung.
  4. Komunitas kreatif sudah menjadi ciri unggul Bandung, utamanya dalam sektor kuliner, makanan dan minuman. Daun afrika membutuhkan “darah segar” ide dan gagasan pemanfaatan. Daunnya yang amat pahit ini sering menjadi kendala, sekalipun bagi mereka yang benar-benar ingin sembuh dari penyakit. Mungkin merupakan potensi bisnis bisa menyajikan daun afrika dalam menu sup atau minuman hangat yang nikmat.

Sekarang ini produk berbahan baku daun afrika sudah mulai diterima masyarakat. Pada umumnya masih sederhana dalam bentuk teh herbal. Para produsen dan pedagang mulai menggeliat di Medan, Batam, Jakarta, dan Jawa Barat. Di Amerika Serikat pun, produk yang mampu dimasyarakatkan baru bentuk teh herbal ini.
- o0o -

Setelah koran bersirkulasi  terbesar di Jawa Barat, harian Pikiran Rakyat, menerbitkan artikel saya tentang daun afrika, sehalaman penuh, puluhan deringan menyapa ponsel saya. Kebanyakan menyatakan ingin memiliki tanaman asal afrika tersebut. Sebagian lagi tidak mau repot-repot menanam, atau karena ketiadaan lahan yang memadai, mereka menanyakan harga helaian daun afrika.
Saya pun panik, pastinya bersama sukacita; sukacita yang panik. Upaya KIE (komunikasi-informasi-edukasi) yang saya lakukan ternyata menarik perhatian khalayak. Panik karena banyak sekali desakan kebutuhan akan daun afrika tersebut, sedangkan saya tidak memiliki kebun yang luas.
Untuk memenuhi permintaan dadakan ini saya mencoba browsing mencari pedagang daun afrika. Minta ampun, ternyata harganya mahal sekali, nyaris seribu perak (Rp1.000) per helai. Biasanya dijual dalam paket jumlah tertentu, misalnya Rp50 ribu untuk 60 helai daun afrika segar, atau Rp100 ribu untuk 60 helai daun afrika kering.
Saya belum pernah menjual daun afrika dalam bentuk daun segar. Biasanya tetangga dipersilakan bebas mengambil sendiri di halaman rumah saya dan lahan fasilitas lingkungan di seberang rumah.
Daun kering juga tidak pernah saya sediakan dalam bentuk helaian; hanya ada bentuk serbuk daun kering yang dikapsulkan. Yang terakhir ini hanya untuk percobaan dan belum ada uji dan ijin dari lembaga kesehatan, sehingga belum layak jual.

Mengapa saya tidak menjual helaian daun afrika? Ada beberapa pertimbangan.
  1. Yang namanya herbal, khasiatnya hanya bisa dirasakan jika dikonsumsi rutin dan lama
  2. Sulit menjaga kesegaran daun afrika, sehingga tidak praktis menjual daun segarnya. Baru dijajakan, sudah layu tidak menarik
  3. Menjual daun kering juga tidak praktis, karena setelah dikeringkan, daun ini cenderung menarik lagi uap air di sekitarnya, sehingga mutu tidak terjamin.
Saya lebih senang melakukan sosialisasi agar setiap orang atau rumah tangga memiliki sendiri pohon daun afrikanya. Modalnya sangat kecil, sepuluh ribu setiap rumah sudah bisa memperoleh “apotek hidup.”

Daun afrika ini masih luas kemungkinan dalam pengembangan produk. Selain teh herbal, baik dengan simplisia segar (saya lebih suka), maupun pun kering, telah dicoba memroduksi sabun muka dengan kandungan virgin coconut oil dan ekstrak daun afrika. Beberapa teman dekat yang mencobanya, melaporkan kesan positif atas produk ini. Umumnya melaporkan baik untuk mengatasi jerawat.
Selain itu, bagi yang tidak suka rasa pahit daun segarnya jika dilalab, atau tidak bisa menikmati aroma teh herbalnya yang menyengat, saya mencoba melakukan inovasi produksi teh herbal difermentasi.
Yang mutakhir, ada penemuan baru ekstrak Vernonia amygdalina ini. Penemuan yang belum pernah dilaporkan dalam jurnal penelitian ini adalah ekstrak yang rasanya tidak terlalu pahit, aromanya lebih lembut, dan warnanya eksotik. Teh herbal umumnya dikenal orang dengan warna kuning kecoklatan. Penemuan, yang sedang dalam proses pendaftaran HaKI, warnanya hijau zambrut.

2015, daun afrika memasuki babak baru perkembangan isu di Indonesia. Tumbuhan bernama ilmiahVernonia amygdalina Del. ini telah mulai mendapatkan perhatian para peneliti. Namanya sudah menjadi prasasti dalam skripsi.
Fakultas Farmasi dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara telah memulai menjadikan daun afrika sebagai topik tugas akhir. FF USU mengkaji khasiatnya bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah; FKG USU mengkaji pemanfaatan ekstrak daun afrika sebagai medikamen alternatif.
Daun afrika, seperti yang sudah saya ramalkan sejak 3 tahun lalu, akan naik daun sekarang. Rasanya pahit seperti namanya bitter leaf, kata orang Inggris, tetapi nasibnya manis sekali.
Tanaman ini dapat ditanam di semua jenis lahan, dari tepi pantai hingga puncak gunung. Keluarga sangat sangat sangat sederhana yang tidak punya lahan bisa menanamnya pada pot kecil.
Khasiatnya mulai untuk jerawat yang bisa menyebabkan seseorang merasa kehilangan muka, hingga kanker yang bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa; darah kotor dan pikiran kotor juga bisa digelontor.
Pemanfaatan tumbuhan ini dapat memasuki seluruh relung kehidupan manusia dan lingkungannya. Anda hidup sendiri, daun afrika bisa menemani, menjadi menu kudapat sehari-hari. Anda mulai hidup berdua dan berkeluarga, ingin membangun rumah, pohon kecil ini menjadi tanaman pagar penolak hama rayap.
Anda dapat berbagi dengan tetangga, jika masih punya lebih, kambing dan ikan pun dapat jatah preman. Ternak Anda akan lebih sehat, ikan terpacu beranak pinak. Begitu tertulis dalam jurnal-jurnal ilmiah.
Daun afrika sudah pasti naik daun. Lalu adakah peluang Anda bersama daun afrika untuk ikut juga naik daun? Mari kita olah, yang penting sekarang miliki dulu tanamannya.

- o0o -

Setelah memaksakan diri membaca situs berhuruf mandarin, akhirnya saya menemukan bahwa tanaman ini bernama ilmiah Vernonia amygdalina Del. Dengan terungkapnya jatidiri tumbuhan ini, maka dengan mudah saya menemukan laporan jurnal-jurnal ilmiah dan medis yang mengupas asal-usul, posisi, peran-fungsi, kandungan zat aktif, serta yang terpenting, manfaat medis bagi manusia.

Berikut ini rangkuman dari wisata pustaka husada dan pementasan realita dalam dunia medika/husada:

Jerawat
Persoalan kecil, tetapi terlampau sulit untuk diabaikan, sebab menghinggapi muka, dan membuat kaum remaja merasa bakal kehilangan muka. Itulah fenomena jerawat. Tenang, sekarang ada daun afrika. Ga becanda bahwa pohon ini, sudah dibuktikan oleh peneliti dari perguruan tinggi paling kesohor di Sumatera, yaitu Universitas Sumatera Utara. Ekstrak daun afrika yang diaplikasikan dalam bentuk krim telah meyakinkan mampu mengalahkan bakteri-bakteri penyebab jerawat.
Jerawat adalah suatu proses peradangan kronik kelenjar-kelenjar pilosebasea. Keadaan ini sering dialami oleh remaja dan dewasa muda yang akan menghilang dengan sendirinya pada usia sekitar 20-30 tahun. Ada juga orang setengah baya yang mengalami jerawat. Jerawat biasanya berkaitan dengan tingginya sekresi sebum.
Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis adalah organisme utama yang pada umumnya memberi kontribusi terhadap terjadinya jerawat. P. acnes adalah termasuk gram-positif berbentuk batang, tidak berspora, sedangkan S. epidermidis adalah gram positif berbentuk bulat biasanya tersusun dalam bentuk kelompok-kelompok yang tidak teratur seperti anggur. Semuanya tentunya jika dilihat di bawah mikroskop dengan teknik pewarnaan tertentu.
Pengobatan jerawat di klinik kulit biasanya menggunakan antibiotik, benzoil peroksida dan retinoid. Obat ini memiliki efek samping antara lain iritasi. Oleh karena itu dicari alternatif dalam pengobatan jerawat dengan menggunakan bahan-bahan alam yang berkhasiat sebagai antibakteri yaitu daun afrika.
Salah satu alternatif sediaan yang dapat digunakan untuk pengobatan jerawat adalah sediaan topikal misalnya krim. Sifat umum sediaan krim ialah mampu melekat pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan ini dicuci atau dihilangkan. Krim dapat melembapkan dan mudah tersebar merata, mudah berpenetrasi pada kulit,mudah diusap, mudah dicuci air.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dibuat formula ekstrak etanol daun Afrika dalam bentuk sediaan krim untuk pengobatan jerawat. Sediaan krim dipilih karena mempunyai keuntungan yaitu sederhana dalam pembuatannya, mudah dalam penggunaan, daya menyerap yang baik dan memberikan rasa dingin pada kulit.
Selain dalam bentuk krim, di Bandung juga telah diproduksi sabun wajah yang mengandung ekstrak daun afrika. “Sabun ini berbasis herbal dan virgin coconut oil,” kata Santhy Sri Yunita pemilik Bydara Salon & Spa Herbal Treatment. “Seorang ibu melaporkan bahwa sabun mengandung ekstrak daun afrika ini menyembuhkan jerawat anak remajanya. Ada juga sarjana baru yang sembuh,” kata Santhy sambil menunjukkan sabun ekstrak daun afrika pertama dan satu-satunya di dunia.

Awet Muda
Para ilmuwan spesialis di Malaysia telah menemukan alasan bukti konsistensi kedahsyatan antioksidan yang terkandung dalam ekstrak air dari daun afrika. Antioksidan yang beragam didapati pada daun afrika ini mampu bekerja tidak saja dalam tataran "teori" yang logis, tetapi praktis empiris.
Setidaknya ada 6 peneliti, dengan latar belakang spesialisasi berbeda, yang menuliskan laporan dalam jurnal bioteknologi yang diterbitkan pada 2012. Mereka adalah Wang Yong Ho, Abdul Hadi Naoman Yousr, dan Noorjahan Banu Alitheen (Department of Cell and Molecular Biology, Universiti Putra Malaysia), Boon Kee Beh (Department of Bioprocess Technology, Universiti Putra Malaysia), Swee Keong Yeap (Institute of Bioscience, Universiti Putra Malaysia), dan Woon San Liang (Spektra Biotek Sdn Bhd).
Potensi ekstrak air dari daun afrika sebagai agen antioksidan in vitro telah lama ditemukan sebelumnya. Pada penelitian ini, mereka melakukan pembuktian kuantitatif atas aktivitas antioksidan daun afrika, tidak saja secara in vitro, tetapi juga in vivo.
 Pengujian dalam studi ini meliputi DPPH radical scavenging assay, aktivitas superoxide dismutase (SOD), malondialdehyde (MDA) level dan total antioxidant capacity (TAOC).
Pada in vitro, DPPH assay menunjukkan bahwa ekstrak daun afrika merupakan agen antioksidan moderat bila dibandingkan terhadap vitamin C. Pada tes  in vivo, peningkatan SOD dan TAOC serta penurunan level-level MDA teramati pada organ-organ dan darah dari hewan percobaan yang mendapatkan perlakuan. Disimpulkan bahwa ekstrak daun afrika berpotensi sebagai agen antioksidan yang dapat melindungi sel-sel pada organ terhadap stres oksidasi.
Sebagai kesimpulan, para peneliti sepakat menyatakan bahwa ekstrak semprot kering (dried spray) daun afrika memiliki aktivitas antioksidan, baik in vitro dan in vivo. Dalam penelitian ini terbukti daun afrika tidak hanya mampu meningkatkan plasma dan tingkat antioksidan sel darah merah, tetapi juga mampu untuk masuk ke dalam sel-sel hidup di organ dan melindungi mereka dari kerusakan oksidatif, setelah 14 hari konsumsi terus menerus.
Hal ini dapat digunakan dalam mengompensasi penurunan kapasitas antioksidan total dalam paru-paru dan hati dan meningkatkan tingkat SOD dalam organ dan darah. Secara keseluruhan hal ini berarti daun afrika mampu mengurangi risiko peroksidasi lipid.

Diabetes
Daun afrika tidak hanya mengurangi tingkat gula darah secara drastis, tetapi juga membantu memperbaiki pankreas. Anjuran pemakaian, peras 10 genggam daun segar dicampur dengan 10 liter air, minumlah 2 gelas, 3 x sehari. Beberapa orang juga menambah segenggam daun afrika untuk dimakan juga.
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Pharmacy & Bioresources, para peneliti di University of Jos, menyatakan bahwa ekstrak kloroform kasar daun afrika memiliki efek anti-diabetes pada tikus dengan diabetes mellitus (diabetes tipe 2), pada kondisi laboratorium.
Demikian pula, para peneliti menulis dalam Medical Journal of Islamic World Academy of Sciences bahwa pemberian ekstrak air daun afrika dengan konsentrasi 500 mg / kg berat badan secara signifikan menurunkan kadar glukosa darah. Kemanjurannya menurunkan kadar glukosa darah adalah sebanding dengan klorpropamid, obat standar yang digunakan dalam pengelolaan diabetes.
Nyatanya, obat anti-diabetes herbal berbasis daun afrika telah lulus uji klinis dan menerima Paten Amerika Serikat nomor 6531461 untuk pengobatan diabetes sejak 2008.

Serangan Jantung dan Stroke
Konsumsi rutin sayuran seperti daun afrika dan Telfairia occidentalis (Ugwu) dapat membantu mengatur kadar kolesterol dalam darah, yang merupakan faktor risiko serangan jantung dan stroke. Penumpukan kolesterol dan zat-zat lain yang disebut plak, dapat mempersempit arteri hingga tersumbat, menyebabkan arteriosklerosis, atau pengerasan pembuluh darah. Seiring waktu, hal ini menyebabkan serangan jantung.
Studi, yang dipublikasikan dalam African Journal Of Biochemistry pada 2011, menunjukkan bahwa diet daun afrika dan ugwu menyebabkan peningkatan serum kolesterol baik (HDL) secara signifikan, menunjukkan peran protektif terhadap jantung dan pembuluh darah, termasuk dari serangan jantung.

Malaria
Daun afrika telah banyak digunakan dan diakui kemanjurannya dalam mencegah malaria. Daun mentah dipetik dan dicuci sebelum diperas untuk mendapatkan jusnya. Minum jus langsung sebagai penangkal malaria.
Dalam studi antimalaria, para peneliti menemukan bahwa di bawah kondisi laboratorium, ekstrak daun afrika yang terbuat dari air dan etanol menunjukkan aktivitas antimalaria moderat dengan tingkat toksisitas yang dapat diabaikan dalam tes hewan-tikus.
Pada edisi 2011 dari studi Science World Journal, ekstrak etanol daun afrika menunjukkan aktivitas antimalaria tertinggi 78,1 persen. Ekstrak air memiliki penghambatan pertumbuhan parasit malaria sebesar 74,0 persen.
Pada studi lain, didokumentasikan dalam jurnal African Health Sciences, 2008, daun afrika berpotensi membalikkan resistensi chloroquine bila digunakan sebagai adjuvant bersama obat standar untuk malaria itu.

Rematik dan Arthritis
Seorang apoteker lulusan pendidikan profesi di ITB, Dra Kurniawati, Apt., menyatakan khasiat mengonsumsi daun afrika secara rutin sangat terasa. "Terutama pada lansia yang mengalami keluhan radang sendi, dalam seminggu mengonsumsi daun afrika, keluhan hilang atau reda," katanya. "Bahkan ada yang terpaksa sholat sambil duduk, karena sakit tak tertahankan pada lutut saat melakukan gerakan berdiri setelah sujud, dalam waktu singkat bisa kembali sholat normal," kata Ibu yang berhijab ini.
Apakah kesembuhan dari keluhan persendian ini karena efek anti radang sendi atau anti rasa sakit saja? Kurniawati, yang menyelesaikan studi farmasi S1 di Unpad ini, meyakini ada mekanisme lain yang terkait dengan sistem imun. "Ada banyak macam sakit sendi, harus dokter yang memastikan diagnosisnya. Yang mereka rasakan hanya gejalanya saja," katanya. Untungnya mengonsumsi daun afrika akan memperoleh efek lengkap untuk satu gejala kompleks radang sendi ini, yaitu anti-inflamasi, pereda sakit, dan meningkatkan imunitas.

Anti-anflamasi dan Analgesik
Aksi anti-inflamasi daun afrika telah dilaporkan dalam British Journal of Pharmacology and Toxicology terbitan 2013. International Journal of Advanced Pharmaceutical and Biological Sciences telah melaporkan hasil riset yang membuktikan potensi daun afrika sebagai analgesik (pereda rasa nyeri). Sedangkan efek imunitas daun afrika dilaporkan pada jurnal yang ditulis di awal tulisan.

Meningitis
Meningitis, di akhir Maret 2015 menjadi trending topic. Tiada hari tanpa kuliah kesehatan, baik di dunia nyata maupun maya. Media jurnalistik konvensional maupun situs-situs elektronik dan medsos tak henti berkicau soal penyakit maut ini. Nyalakan TV, stel radio, buka medsos, selusur online, ada saja yang membagikan informasi atau sekadar komentar tentang penyakit yang menyebabkan kematian komedian Olga.
Ceriwis ihwal meningitis ini boleh jadi karena nama besar penderita yang menjadi berita. Ataukah masyarakat terguncang kabar besarnya biaya perawatan rumah sakit kelas internasional yang hingga ratusan juta per hari? Bisa juga lantaran selama ini nama penyakit ini nyaris tak tergubris dan sekonyong-konyong menyebabkan penderitaan panjang seorang public figure yang sebelumnya nyaris setiap hari merilis canda tawa paling laris.
Jadi, jelas sekarang khalayak langsung cerdas jika ditanya soal penyakit yang menyerang selaput otak dan sumsum tulang belakang dan menyebabkan peradangan. Setidaknya kini orang tahu bahwa meningitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, dan kuman lainnya, dan ada juga sebab-sebab non-infeksi. Yah sekali klik di sini http://id.wikipedia.org/wiki/Meningitis, kita langsung paham, bahwa begitu banyak penyebab, gejala, efek dan dampak terkait penyakit yang sebenarnya sudah diketahui keberadaannya sejak jaman Yunani kuno Hippocrates dan keemasan arab Ibnu Sina.
Pernah ada wabah besar di berbagai belahan bumi, dan menjadi terkendali sejak ditemukan antibiotik dan vaksin. Epidemik terakhir baru saja usai di afrika sub-sahara, yaitu pada 1996-1997, yang mengakibatkan terjadi 250.000 kasus dan 25.000 kematian. Mengerikan. Memang di benua hitam ini ada daerah yang disebut sabuk penyakit meningitis.
Kini kedokteran sudah berkembang dan lebih siap menghadapi meningitis. Namun demikian tetap saja banyak kejutan. Kedokteran dan layanan kesehatan negara semaju Singapura tidak cukup memuaskan dalam memberikan solusi, apalagi rumah sakit dalam negeri. Jadi, yuk kita upayakan tindakan komplementer dan alternatif, selain upaya preventif dengan langkah-langkah higienis.
Saya, lagi-lagi, dan memang tergila-gila, menawarkan obat penawar berupa daun afrika. Sesungguhnya sama sekali bukan obat penawar, bahkan bukan obat. Namun, percayalah, cukup banyak alasan dan dasar, tentu saja semaksimal mungkin dicarikan yang bersifat ilmiah, untuk menggunakan tanaman asal afrika ini melawan penyakit yang epidemik di afrika juga.
Awalnya orang mengenal khasiat daun afrika dari pengamatan pada perilaku simpanse. Tanaman ini bukan makanan sehari-hari monyet afrika tanpa buntut itu. Hewan, yang tergolong cerdas dan banyak diajak main film ini, mungkin juga tahu, bahwa rasanya pahit nian, ga enak. Simpanse memakannya hanya jika sedang sakit infeksi, terutama oleh serangan protozoa dan cacing. Dari contoh oleh alam ini lah, manusia menelaah dan mengembangkan pemanfaatan.
Adakah hasil riset biomedis yang menghubungkan meningitis dan daun afrika? Mari kita simak sebagian jurnal ilmiah tentang ini. Selanjutnya akan kita cari lagi hasil-hasil riset klinis yang lebih mendalam.
Para ilmuwan telah menemukan bahwa mengonsumsi daun afrika akan memperoleh manfaat multi-efek untuk gejala-gejala kompleks terkait meningitis, yaitu anti-inflamasi (anti-radang), pereda sakit, dan meningkatkan imunitas melawan kuman.

Sebuah hasil penelitian ilmiah dilaporkan dalam Global Journal of Biotechnology and Biochemistry tentang ekstrak daun afrika yang terbukti meningkatkan angka CD4+. CD4+ ini merupakan parameter yang digunakan dalam studi imunitas (daya tahan tubuh). Lemahnya sistem kekebalan tubuh penderita HIV/AIDS, misalnya, biasa dari waktu ke waktu diukur angka CD4+ sang pasien. Berikut ini grafik yang menunjukkan bukti aksi daun afrika pada sistem imun dengan parameter sel CD4+.
Para peneliti menyatakan bahwa ekstrak air dari daun afrika dengan dosis 200-800 mg/kg berat badan, dalam penggunaan selama 21 hari, meningkatkan jumlah sel CD4+ pada tikus percobaan. Karena itu, kata peneliti farmasi dari 2 perguruan tinggi di Nigeria ini, ekstrak air dari daun tumbuhan yang bernama ilmiah Vernonia amygdalina Del ini dapat digunakan sebagai peningkat daya tahan tubuh (immune booster) pada kondisi kesehatan yang dikompromikan. Begitu.
- o0o -


Sebagai penutup, teringat kata guru saya dulu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Lebih daripada itu, apa pun pengobatan yang sedang dijalani, tidak ada salahnya menjadikan daun yang pahit ini menjadi lalapan penjinak penyakit. Seperti simpanse, monyet afrika, jika Anda sakit infeksi, tambahkan sayuran ini sebagai diet, sejauh tidak dilarang dokter.

Rabu, 22 April 2015

Jual Daun Afrika dan Berbagai Kreasi

Setelah KIE Komunikasi-Informasi-Edukasi yang intensif dalam sebulan terakhir, kini rata-rata ada 3 permintaan bibit daun afrika (Vernonia amygdalina Del.) dalam bentuk stek, di dalam kota Bandung saja. Sementara ini saya memang lebih fokus pada gerakan ketok-tular penanaman sejuta pohon daun afrika di Bandung Raya. Mengapa?

  1. Di habitat aslinya pohon daun afrika ini tumbuh pada ketinggian lebih dari 1500 m dpl. Bandung saja yang plus minus 700 m dpl, sesungguhnya masih kurang ideal. Di halaman saya, perdu berkayu ini mampu berbunga, waktunya di sekitar akhir tahun, tetapi gagal berbuah. Di tempat yang rendah, seperti Jakarta dan Tangerang serta Medan, hampir semua pemilik pohon, berbunga wangi seperti melati ini, tidak pernah melihat miliknya berbunga.
  2. Kedekatan geografi dan psikososial untuk pembinaan komunitas pembudidaya daun afrika. Meski pun bisa menggunakan jasa kurir, saya lebih senang mengantar sendiri, jika ada keleluasaan waktu. Banyak cerita seru saat bertemu mereka yang punya hobi yang bersatu, yaitu bercocok tanam tumbuhan herbal berkhasiat atau TOGA.
  3. Memudahkan tindak-lanjut jika ada pertemuan visi-misi untuk bersinergi membangun usaha kecil, misalnya jika kelak sama-sama bersemangat membangun koperasi usaha tani dan kesehatan berbasis pohon daun afrika

Apakah sepenting itu membangun fondasi bisnis pohon daun afrika ini?
Ya! Sekarang ini saja produk berbahan baku daun afrika sudah mulai diterima masyarakat. Pada umumnya masih sederhana dalam bentuk teh herbal. Para produsen dan pedagang mulai menggeliat di Medan, Batam, Jakarta, dan Jawa Barat. Di Amerika Serikat pun, produk yang mampu dimasyarakatkan baru bentuk teh herbal ini.
Daun afrika ini masih memungkinkan pengembangan produk. Selain teh herbal, baik dengan simplisia segar (saya lebih suka), maupun pun kering, saya telah mencoba memroduksi sabun muka dengan kandungan virgin coconut oil dan ekstrak daun afrika. Beberapa teman dekat yang mencobanya, melaporkan kesan positif atas produk ini. Umumnya melaporkan baik untuk mengatasi jerawat.
Selain itu, bagi yang tidak suka rasa pahit daun segarnya jika dilalab, atau tidak bisa menikmati aroma teh herbalnya yang menyengat, saya mencoba melakukan inovasi produksi teh herbal difermentasi.
Yang mutakhir, ada penemuan baru ekstrak Vernonia amygdalina ini, yang rasanya tidak terlalu pahit, aromanya lebih lembut, dan warnanya eksotik. Ini dia:

Minggu, 19 April 2015

Daun Afrika Sekeluarga Sehat Sepanjang Masa juga untuk Wirausaha

Bibitnya sebatang 10 ribu rupiah saja, sehatnya sepanjang masa, untuk se-keluarga, malah bisa untuk usaha. Boleh dikata daun afrika tumbuhan serba bisa. Sakit apa pun akan binasa, kecuali kematian yang tak terduga, takdir yang Maha Kuasa.
Herbal daun afrika akan perkasa jika dimakan tak pernah lupa. Untuk jaga-jaga, sehari cukup selembar saja; untuk yang sakit boleh diulang sampai lima.
Kedahsyatan utamanya pada kerja antioksida, antimikroba, dan anti-gula. Dari antioksida maka kanker akan putus asa, bunuh diri, kata dokter apoptosis. Antioksida juga membuat penuaan jadi tak kentara.
Dari antimikroba maka malaria akan enyah selamanya, sakit perut punah, jerawat sirna. Daun afrika juga membuat demam dan nyeri mereda.

Senin, 13 April 2015

Frink, Daun Afrika Plus Teh Hijau

Anda suka minuman teh dalam kemasan? Merk apa yang tadi Anda beli? Kemasan botol atau plastik? Anda puas atau adakah harapan yang tidak terpenuhi?

Sebagian orang menganggap minuman teh dalam kemasan terlalu manis. Karena itu air “doang” dalam kemasan masih menjadi pilihan utama konsumen yang sedang dalam perjalanan.

Bagi orang, yang memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai nutrisi, gizi, dan kalori, minuman teh manis itu juga merisaukan. Manis bisa berisiko kena kencing manis; kalori tinggi menyebabkan kegemukan atau pendek umur. Mereka pikir begitu.

Sudah lebih dari 10 tahun saya mencoba menawarkan inovasi industri minuman teh dalam kemasan. Minuman yang (akan) saya beri merk Frink ini terdiri dari teh hijau asli, gula asli, dan terkadung asam organik. Sama sekali tidak ada bahan kimia sintetik seperti gula siklamat atau sakarin, tidak menggunakan aroma sintetik, dan tidak menggunakan asam industri, serta tidak menggunakan pengawet makanan kimia.

Selain menggunakan bahan-bahan alami dan diproduksi secara bioproses, minuman ini dapat dibuktikan khasiat herbal yang terkandung di dalamnya. Berbeda dengan minuman teh dalam kemasan pada umumnya. Meski pun teh, apalagi teh hijau oleh para ilmuwan dibuktikan memiliki khasiat penyembuhan, tetapi tidak ada pengakuan dari konsumen yang rajin minum teh botol atau teh kotak yang sembuh dari keluhan kesehatan sebagaimana seharusnya yang diperoleh jika orang rajin minum teh. Berbeda dengan Frink, semua konsumen merasakan manfaat kesehatan dari teh sebagaimana ditulis dalam buku kesehatan populer atau kitab pengobatan kuno.

Karena saya tidak cukup kaya dan tidak cukup pandai memengaruhi pemikiran orang kaya yang berminat membangun industri minuman alternatif ala Frink ini, maka saya pun hanya ala kadarnya memroduksi skala rumah. Sudah kegiatan ini tidak cukup tampak prospektif sebagai bisnis. Bagi saya ini sekadar untuk menjaga kesehatan pribadi agar cukup umur untuk terus membangun impian, sambil terus inovasi dilanjutkan, dengan harapan suatu hari nanti menemukan formula yang sangat layak secara industri, atau bertemu pengusaha gila yang mau percaya bahwa inovasi ini dapat mewujud menjadi trend setter dalam industri minuman.
Frink, new paradigm on beverage industry
Kenapa gila? Ya karena jarang sekali ada pengusaha mapan yang mau menerima paradigma non-mainstream. Kursus manajemen bisnis mengajarkan kaizen dan konsep manajemen inovasi ala Jepang itu sudah menjadi idola para pebisnis. Di dalam kaizen dituntut ada perbaikan kualitas terus menerus, tetapi gradual, dan bukan lompatan tak lazim.

Beberapa tahun silam, dalam wisata pustaka ke Gramedia, saya menemukan  buku  Blue Ocean Strategy. Setelah membeli dan membaca karya W. Chan Kim dan Renée Mauborgn ini, saya pikir yang saya lakukan sesuai dengan konsep yang diterbitkan oleh Harvard Business School Press pada 2005 itu. Frink, minuman yang dengan bioproses, diturunkan kalori dan derajat kemanisannya oleh jasad renik dalam produksi, merupakan produk unik yang menantang logika strategi industri minuman berbasis teh dalam kemasan.

Menurut Kim terdapat empat pertanyaan kunci untuk menantang logika strategi dan model bisnis sebuah industri:

Faktor apa saja yang harus dihapuskan dari faktor-faktor yang telah diterima begitu saja oleh industri? (Frink tidak mau menggunakan gula palsu, flavor, dan pengawet).
Faktor apa saja yang harus dikurangi hingga dibawah standar industri? (Frink rendah kalori)
Faktor apa saja yang harus ditingkatkan hingga di atas standar industri? (Frink mengandung asam organik hasil dari bioproses)
Faktor apa saja yang belum pernah ditawarkan industri sehingga harus diciptakan? (Minuman yang nikmat, menyegarkan, dan MENYEHATKAN)
Saya akui, untuk benar-benar memenuhi konsep, strategi, dan implementasi sebagai produk yang memasuki lautan biru kompetisi, saya mesti banyak belajar, bereksperimen, melakukan focus group discussion (FGD) bersama konsumen-konsumen captive dari produksi rumahan sekarang ini, dan tetap berharap ada orang yang berkenan menjadi investor sekaligus mentor bisnis saya. Doakan ya.

Segenap proses, produk, dan merk yang ditemukan sepanjang perjalanan menggapai cita-cita yang terlalu tinggi ini, menurut saya melebihi tujuan mencari uang dan membangun bisnis. Saya lebih terdorong oleh rasa penasaran menikmati sesuatu yang terkandung dalam motto berbahasa latin Ars longa vita brevis. Sangat terobsesi.

Bir Gaya Baru, Usul Untuk Ahok

Jika ada kesempatan bertemu Ahok, saya akan meminta dia mencicip minuman yang setiap hari saya racik di rumah. Saya kira minuman ini, yang saya beri nama Frink, bukan bir, dilihat dari bahan dan prosedur produksi.
Lalu mengapa memberikan sampel Frink kepada Ahok? Karena Ahok adalah pemegang saham ex officio (Gubernur DKI) pada BUMD PT Delta Djakarta, Tbk. Pemprov DKI diketahui memiliki saham sebesar 26,25 persen di BUMD PT Delta Djakarta. Perusahaan daerah ini merupakan pemegang lisensi produksi dan distribusi beberapa merek bir internasional, seperti Anker Bir, Carlsberg, San Miguel, dan Stout.
Tujuan meminta Ahok mencoba Frink adalah agar Ahok tahu ada alternatif minuman selain bir, yang rasanya mirip tetapi memiliki manfaat dan khasiat yang luar biasa. Selain itu “penemuan” ini juga dapat meningkatkan laba BUMDnya itu karena menghemat biaya produksi, jika bir tetap diproduksi.
Produksi bir masih sangat ketergantungan pada impor bahan-bahan pembuatnya. Antara lain bunga hop (Humulus lupulus) untuk memberikan rasa pahit. Nah ini yang saya ingin usulkan, yaitu mengganti bunga hop itu dengan daun afrika (Vernonia amygdalina) pada produksi bir Ahok.
Hop hanya bisa dibudidayakan di negara dengan 4 musim. Seorang Jerman yang menjadi konsultan Kadinda Kota Bandung mengatakan bahwa Australia adalah negara penghasil dan pengekspor hop utama dunia. Bahkan orang Jerman juga harus mengimpor dari Australia, katanya.
Saya sudah mencoba membuat banyak variasi minuman dengan bahan utama daun afrika ini. Bahan bakunya adalah gula pasir (karena saya tidak punya malt, anggur, atau nira), air, dan daun afrika. Seluruh bahan itu direbus bersama, lalu setelah dingin saya mencampurnya dengan ragi dan bakteri yang biasa digunakan dalam pembuatan kombucha. Karena itu saya kira ini bukan bir.
Bagaimana rasanya? Perpaduan antara masam, manis, dan pahitnya bir, olala. Tentu saja hasil produksi di dapur ini tidak konsisten rasanya. Ahok yang punya pabrik bir perlu mencoba dengan langkah yang lebih serius dan baku. Ya itu tadi, yang berubah hanya subtitusi hop dengan daun afrika yang dapat kita budidayakan secara luas di negeri sendiri.
Jika Ahok berhasil membuat bir gaya baru ini, dan jika Menteri Rachmat Gobel tetap memaksa melarang produksi bir di DKI (dan kita berharap bukan dengan maksud memasukkan bir asal Jepun, misalnya), maka Ahok bisa terus memroduksi bir untuk ekspor saja untuk meraup devisa. Siapa tahu warga dunia penggemar bir banyak yang mau beralih ke bir baru tanpa hop ini. Ingat, kelebihan penggunaan daun afrika ialah selain ada sensasi pahit yang eksotik, tumbuhan ini punya khasiat kesehatan.
Silakan baca artikel lainnya mengenai daun afrika di kompasiana.

Minggu, 05 April 2015

Daun Afrika, Diabetes, Sakit Jantung

Mengobati diabetes

Betul, sudah banyak laporan dari masyarakat bahwa pohon daun afrika ini membantu penyembuhan dari sakit gula. Daun afrika tidak hanya mengurangi tingkat gula darah secara drastis, tetapi juga membantu memperbaiki pankreas.

Sebuah situs dari universitas di benua hitam menyarankan cara penggunaan. Peras 10 genggam daun segar dicampur dengan 10 liter air, minumlah 2 gelas, 3 x sehari. Beberapa orang juga menambah segenggam daun afrika untuk dimakan juga.
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Pharmacy & Bioresources, para peneliti di University of Jos, menyatakan bahwa ekstrak kloroform kasar Vernonia amygdalina (nama ilmiahnya) memiliki efek anti-diabetes pada tikus dengan diabetes mellitus (diabetes tipe 2), pada kondisi laboratorium.
Demikian pula, para peneliti menulis dalam Medical Journal of Islamic World Academy of Sciences bahwa pemberian ekstrak air daun afrika dengan konsentrasi 500 mg / kg berat badan secara signifikan menurunkan kadar glukosa darah. Kemanjurannya menurunkan kadar glukosa darah adalah sebanding dengan klorpropamid, obat standar yang digunakan dalam pengelolaan diabetes.
Nyatanya, obat anti-diabetes herbal berbasis daun afrika telah lulus uji klinis dan menerima Paten Amerika Serikat 6531461 untuk pengobatan diabetes sejak 2008.

Menangkal serangan jantung dan stroke
Konsumsi rutin sayuran seperti Vernonia amygdalina (daun afrika) dan Telfairia occidentalis (Ugwu) dapat membantu mengatur kadar kolesterol dalam darah, yang merupakan faktor risiko serangan jantung dan stroke.
Penumpukan kolesterol dan zat-zat lain yang disebut plak, dapat mempersempit arteri hingga tersumbat, menyebabkan arteriosklerosis, atau pengerasan pembuluh darah. Seiring waktu, hal ini menyebabkan serangan jantung.
Studi, yang dipublikasikan dalam African Journal Of Biochemistry pada 2011, menunjukkan bahwa diet daun afrika dan ugwu menyebabkan peningkatan serum kolesterol baik (HDL) secara signifikan, menunjukkan peran protektif terhadap jantung dan pembuluh darah, termasuk dari serangan jantung.

Sabun Daun Afrika Anti Jerawat

Persoalan kecil, tetapi terlampau sulit untuk diabaikan, sebab menghinggapi muka, dan membuat kaum remaja merasa bakal kehilangan muka. Itulah fenomena jerawat.
Tenang, sekarang ada daun afrika. Ga becanda bahwa pohon, yang bernama ilmiah nan cantik Vernonia amygdalina Del ini, sudah dibuktikan oleh peneliti dari perguruan tinggi paling kesohor di Sumatera, yaitu Universitas Sumatera Utara.
Ekstrak daun afrika yang diaplikasikan dalam bentuk krim telah meyakinkan mampu mengalahkan bakteri-bakteri penyebab jerawat. Jerawat adalah suatu proses peradangan kronik kelenjar-kelenjar pilosebasea. Keadaan ini sering dialami oleh remaja dan dewasa muda yang akan menghilang dengan sendirinya pada usia sekitar 20-30 tahun, ada juga orang setengah baya yang mengalami jerawat. Jerawat biasanya berkaitan dengan tingginya sekresi sebum.
Propionibacterium acne dan Staphylococcus epidermidis adalah organisme utama yang pada umumnya memberi kontribusi terhadap terjadinya jerawat. P. acnes adalah termasuk gram-positif berbentuk batang, tidak berspora, sedangkan S. epidermidis sel gram positif berbentuk bulat biasanya tersusun dalam bentuk kelompok-kelompok yang tidak teratur seperti anggur. Semuanya tentunya jika dilihat di bawah mikroskop dengan teknik pewarnaan tertentu.
Pengobatan jerawat di klinik kulit biasanya menggunakan antibiotik, benzoil peroksida dan retinoid. Obat ini memiliki efek samping antara lain iritasi. Oleh karena itu dicari alternatif dalam pengobatan jerawat dengan menggunakan bahan-bahan alam yang berkhasiat sebagai antibakteri yaitu daun Afrika.
Daun Afrika banyak tumbuh di benua Afrika bagian barat terutama di Nigeria dan negara yang beriklim tropis salah satunya adalah Indonesia. Pada tahun 2009 di Bogor, telah dilakukan pembudidayaan tanaman daun Afrika. Tanaman ini mudah tumbuh pada daerah yang curah hujan cukup tinggi.
Daun Afrika mengandung flavonoid, tanin, saponin dan terpenoid yang mampu membunuh parasit penyebab schistosomiasis, malaria, leishmaniasis. Daun afrika juga telah terbukti secara ilmiah berfungsi sebagai antiamoeba, antitumor dan antimikroba.
Salah satu alternatif sediaan yang dapat digunakan untuk pengobatan jerawat adalah sediaan topikal misalnya krim. Sifat umum sediaan krim ialah mampu melekat pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan ini dicuci atau dihilangkan. Krim dapat melembapkan dan mudah tersebar merata, mudah berpenetrasi pada kulit,mudah diusap, mudah dicuci air.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dibuat formula ekstrak etanol daun Afrika dalam bentuk sediaan krim untuk pengobatan jerawat. Sediaan krim dipilih karena mempunyai keuntungan yaitu sederhana dalam pembuatannya, mudah dalam penggunaan, daya menyerap yang baik dan memberikan rasa dingin pada kulit.
Selain dalam bentuk krim, di Bandung juga telah diproduksi sabun wajah yang mengandung ekstrak daun afrika. “Sabun ini berbasis herbal dan virgin coconut oil,” kata Santhy Sri Yunita pemilik Bydara Salon & Spa Herbal Treatment. “Seorang ibu yang mencobanya melaporkan bahwa sabun mengandung ekstrak daun afrika ini menyembuhkan jerawat anak remajanya,” kata Santhy sambil menunjukkan sabun ekstrak daun afrika pertama dan satu-satunya di dunia.

Mengungkap Rahasia Daun Afrika

"Bawa ini, tanam nanti di Bandung, makan daunnya selembar sehari," hanya itu yang dikatakan bibi angkat, yang keturunan Tionghoa asal Medan, saat kami akan pulang dari kunjungan ke rumahnya di kawasan Poris, Tangerang, 2 tahun silam.
Dia, yang terlihat awet muda ini, tidak tahu nama dan manfaat sebenarnya dari tanaman perdu ini, yang bisa mencapai tinggi 5 meter. Waktu itu saya berpikir mungkinkah tanaman ini jawaban atas pertanyaan saya yang nyinyir soal rahasia kesehatan tubuhnya. Di usianya yang mendekati 90 tahun, ia tampak seperti wanita usia 60 tahunan, masih bisa bekerja keliling dunia, dengan tugas yang sangat berat untuk wanita seusia dia: baby sitter. Ia sudah menyambangi USA, Aussie, Hongkong, Taiwan, Jepang, dan entah negara mana lagi yang belum sempat dia ceritakan.
Sesampainya di rumah kami, stek-stek bibit bertunas itu ditanam di halaman rumah yang terbilang sempit. Dijajar tepat di samping pagar, agar sekalian nantinya menjadi pagar hidup, persiapan menggantikan pagar besi itu, saat suatu hari keropos dan rubuh. Enam bulan kemudian potongan-potongan sejengkal itu sudah tumbuh mencapai ketinggian 2 meter, dengan batang yang masih hijau dan lunglai. Setelah setahun, pohon ini tumbuh lebih tinggi, dengan daun yang hijau dan subur. Sayangnya, saya belum tahu nama, manfaat, dan prospek tanaman ini.
Yang pasti rasanya pahit minta ampun, tetapi jika dikuat-kuatkan untuk melumatnya, lama-kelamaan muncul rasa dan sensasi manis. Saya percaya tanaman ini berkhasiat dan berpotensi menghebohkan dunia pertanaman. Karena itu saya keberatan saat istri meminta menebangnya karena bentuknya yang kurang elok untuk tanaman "etalase" rumah, dan tidak jelas "masa depan"nya.
Untunglah, akhirnya misteri terungkap saat saya berkunjung ke rumah seorang teman. Di pekarangannya juga tumbuh sebatang pohon serupa. Langsung saya tanya. Dia bilang ini tanaman sudah heboh di mancanegara. Namanya pohon daun afrika selatan; bisa menyembuhkan kanker dan diabetes. Hah?!
Memerlukan waktu 6 bulan untuk saya menelusuri nama asli dan nama ilmiah. Di dunia maya kita tidak menemukan informasi memadai dengan hanya mengetik daun afrika selatan atau south africa leaf. Saya sudah bertanya kepada 2 ahli sistematika tumbuhan di perguruan tinggi, mereka pun menemukan jalan buntu. Dengan memaksakan diri membaca situs berhuruf mandarin, akhirnya saya menemukan bahwa tanaman ini bernama ilmiah Vernonia amygdalina Del. Dengan terungkapnya jatidiri tumbuhan ini, maka dengan mudah kita menemukan laporan jurnal-jurnal ilmiah dan medis yang mengupas posisi, peran-fungsi, kandungan zat aktif, serta yang terpenting manfaat medis bagi manusia.
Kendala rasa pahit coba diatasi. Daun-daun dibuat menjadi teh, dengan daun segar maupun kering. Sisa daun masih terasa pahit, sayang belum diperoleh resep untuk mengolahnya. Rasa teh juga masih kurang sedap.
Upaya lain adalah memasukkan daun, yang telah dikeringkan dan dibuat serbuk, ke dalam kapsul. Suatu ketika saya mencoba memfermentasi teh herbal daun afrika. Eureka! Ketemu cara nikmat memperoleh sehat dengan daun afrika: minuman fermentasi yang diberinama Frink.
Minuman ini rasanya manis, masam, pahit, dengan proporsi seimbang. Tentu saja memerlukan percobaan dan FGD (focus group discussion) untuk menentukan adonan rasa yang paling banyak diterima konsumen. Kegiatan icip-icip kepada tetangga dan teman adalah rutinitas sampai formula produksi yang tepat ditetapkan sebagai SOP (standard operational procedure).

Beberapa teman yang mencoba rasa dan khasiatnya memberikan laporan. Efek yang paling dominan dan bersifat konsisten, kata mereka, adalah enak tidur dan menyembuhkan insomnia. Yang lain mengatakan bangun tidur segar dan stamina terjaga untuk bekerja sepanjang hari.
Manfaat medis belum banyak yang melaporkan, karena memang kebanyakan yang mencoba minuman ini bukanlah dengan motif berobat. Mereka sekadar mau mencoba saja, melunasi rasa penasaran. Sementara ini saya percayakan mengenai khasiat itu dari jurnal medis dan klinis. Yang penting daun afrika ini mulai berguna sebagai bisnis.


Antioksidan Daun Afrika

Para ilmuwan spesialis di Malaysia telah menemukan alasan bukti konsistensi kedahsyatan antioksidan yang terkandung dalam ekstrak air dari daun afrika. Antioksidan yang beragam didapati pada daun afrika ini mampu bekerja tidak saja dalam tataran "teori" yang logis, tetapi praktis empiris.
Setidaknya ada 6 peneliti, dengan latar belakang spesialisasi berbeda, yang menuliskan laporan dalam jurnal bioteknologi yang diterbitkan pada 2012. Mereka adalah Wang Yong Ho, Abdul Hadi Naoman Yousr, dan Noorjahan Banu Alitheen (Department of Cell and Molecular Biology, Universiti Putra Malaysia), Boon Kee Beh (Department of Bioprocess Technology, Universiti Putra Malaysia), Swee Keong Yeap (Institute of Bioscience, Universiti Putra Malaysia), dan Woon San Liang (Spektra Biotek Sdn Bhd).
Potensi ekstrak air dari daun afrika sebagai agen antioksidan in vitro telah lama ditemukan sebelumnya. Pada penelitian ini, mereka melakukan pembuktian kuantitatif atas aktivitas antioksidan daun afrika, tidak saja secara in vitro, tetapi juga in vivo. Pengujian dalam studi ini meliputi DPPH radical scavenging assay, aktivitas superoxide dismutase (SOD), malondialdehyde (MDA) level dan total antioxidant capacity (TAOC).
Pada in vitro DPPH assay menunjukkan bahwa ekstrak daun afrika merupakan agen antioksidan moderat bila dibandingkan terhadap vitamin C. Pada tes  in vivo, peningkatan SOD dan TAOC serta penurunan level-level MDA teramati pada organ-organ dan darah dari hewan percobaan yang mendapatkan perlakuan. Disimpulkan bahwa ekstrak daun afrika berpotensi sebagai agen antioksidan yang dapat melindungi sel-sel pada organ terhadap stres oksidasi.
Sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa ekstrak semprot kering (dried spray) daun afrika memiliki aktivitas antioksidan, baik in vitro dan in vivo.
Dalam penelitian ini terbukti daun afrika tidak hanya mampu meningkatkan plasma dan tingkat antioksidan sel darah merah, tetapi juga mampu untuk masuk ke dalam sel-sel hidup di organ dan melindungi mereka dari kerusakan oksidatif, setelah 14 hari konsumsi terus menerus. Hal ini dapat digunakan dalam mengompensasi penurunan kapasitas antioksidan total dalam paru-paru dan hati dan meningkatkan tingkat SOD dalam organ dan darah. Secara keseluruhan hal ini berarti daun afrika mampu mengurangi risiko peroksidasi lipid.
Sebagai perbandingan, banyak tanaman lain yang secara in vitro terbukti memiliki kandungan antioksidan, tetapi secara  in vivo, di dalam tubuh, aktivitas antioksidan tidak terjadi, atau kalau pun terjadi, tidak signifikan. Misalnya teh hijau, dalam suatu penelitian dibuktikan bahwa total kapasitas antioksidannya baru terbukti signifikan pada tingkatan kadar tertentu yang lebih tinggi. Potensi antioksidan dari teh sering tidak tampak nyata pada kenyataannya.

Daun Afrika Versus Meningitis, Mungkin kah?

Meningitis, hari-hari ini menjadi bab kuliah kesehatan paling populer di dunia nyata dan dunia maya, media jurnalistik konvensional maupun situs-situs elektronik dan medsos. Nyalakan TV, stel radio, buka medsos, selusur online, ada saja yang membagikan informasi atau sekadar komentar tentang penyakit yang menyebabkan kematian komedian Olga. Ceriwis ihwal meningitis ini boleh jadi karena nama besar penderita yang menjadi berita. Ataukah masyarakat terguncang kabar besarnya biaya perawatan rumah sakit kelas internasional? Bisa juga lantaran selama ini nama penyakit ini nyaris tak tergubris dan sekonyong-konyong menyebabkan penderitaan panjang seorang public figure yang sebelumnya nyaris setiap hari merilis canda tawa paling laris.
Jadi, jelas sekarang khalayak langsung cerdas jika ditanya soal penyakit yang menyerang selaput otak dan sumsum tulang belakang dan menyebabkan peradangan. Setidaknya kini orang tahu bahwa meningitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, dan kuman lainnya, dan ada juga sebab-sebab non-infeksi.
Yah sekali klik di sini http://id.wikipedia.org/wiki/Meningitis, kita langsung paham, bahwa begitu banyak penyebab, gejala, efek dan dampak terkait penyakit yang sebenarnya sudah diketahui keberadaannya sejak jaman Yunani kuno Hippocrates dan keemasan arab Avicenna.
Pernah ada wabah besar di berbagai belahan bumi, dan menjadi terkendali sejak ditemukan antibiotik dan vaksin. Epidemik terakhir baru saja usai di afrika sub-sahara, yaitu pada 1996-1997, yang mengakibatkan terjadi 250.000 kasus dan 25.000 kematian. Mengerikan.
Kini kedokteran sudah berkembang dan lebih siap menghadapi meningitis. Namun demikian tetap saja banyak kejutan. Kedokteran dan layanan kesehatan negara semaju Singapura tidak cukup memuaskan dalam memberikan solusi, apalagi rumah sakit dalam negeri. Jadi, yuk kita upayakan tindakan komplementer dan alternatif, selain upaya preventif dengan langkah-langkah higienis.

DAUN AFRIKA YANG SEDANG MERAJA
Saya, lagi-lagi, dan memang sedang tergila-gila, menawarkan obat penawar berupa daun afrika. Sesungguhnya sama sekali bukan obat penawar, bahkan bukan obat. Namun, percayalah, cukup banyak alasan dan dasar, tentu saja semaksimal mungkin dicarikan yang bersifat ilmiah, untuk melawan penyakit yang menjadi epidemik di afrika tertentu itu dengan tanaman asal afrika juga.
Awalnya orang mengenal khasiat daun afrika dari pengamatan perilaku simpanse. Tanaman ini bukan makanan sehari-hari monyet afrika tanpa buntut itu. Hewan, yang tergolong cerdas dan banyak diajak main film ini, mungkin juga tahu, bahwa rasanya pahit nian. Simpanse memakannya jika sedang sakit infeksi, terutama oleh serangan protozoa dan cacing. Dari contoh oleh alam ini lah, manusia menelaah dan mengembangkan pemanfaatan.
Adakah hasil riset biomedis yang menghubungkan meningitis dan daun afrika? Mari kita simak sebagian jurnal ilmiah tentang ini. Selanjutnya akan kita cari lagi hasil-hasil riset klinis yang lebih mendalam.
Para ilmuwan telah menemukan bahwa mengonsumsi daun afrika akan memperoleh manfaat multi-efek untuk gejala-gejala kompleks terkait meningitis, yaitu anti-inflamasi (anti-radang), pereda sakit, dan meningkatkan imunitas melawan kuman.
Aksi anti-inflamasi daun afrika telah dilaporkan dalam British Journal of Pharmacology and Toxicology terbitan 2013. International Journal of Advanced Pharmaceutical and Biological Sciences telah melaporkan hasil riset yang membuktikan potensi daun afrika sebagai analgesik (pereda rasa nyeri).
Sebuah hasil penelitian ilmiah dilaporkan dalam Global Journal of Biotechnology and Biochemistry tentang ekstrak daun afrika yang terbukti meningkatkan angka CD4+. CD4+ ini merupakan parameter yang digunakan dalam studi imunitas (daya tahan tubuh). Lemahnya sistem kekebalan tubuh penderita HIV/AIDS, misalnya, biasa dari waktu ke waktu diukur angka CD4+ ini.
Berikut ini grafik yang menunjukkan bukti aksi daun afrika pada sistem imun dengan parameter sel CD4+.
Para peneliti menyatakan bahwa ekstrak air dari daun afrika dengan dosis 200-800 mg/kg berat badan, dalam penggunaan selama 21 hari, meningkatkan jumlah sel CD+ pada tikus percobaan. Karena itu, kata peneliti farmasi dari 2 perguruan tinggi di Nigeria ini, ekstrak air dari daun tumbuhan yang bernama ilmiah Vernonia amygdalina Del. ini dapat digunakan sebagai peningkat daya tahan tubuh (immune booster) pada kondisi kesehatan yang dikompromikan. Begitu.
Sebagai penutup, teringat kata guru saya dulu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Lebih daripada itu, apa pun pengobatan yang sedang dijalani, tidak ada salahnya menjadikan daun yang pahit ini menjadi lalapan penjinak penyakit. Seperti simpanse, jika Anda sakit infeksi, tambahkan sayuran ini sebagai diet, sejauh tidak dilarang dokter.