Senin, 13 April 2015

Bir Gaya Baru, Usul Untuk Ahok

Jika ada kesempatan bertemu Ahok, saya akan meminta dia mencicip minuman yang setiap hari saya racik di rumah. Saya kira minuman ini, yang saya beri nama Frink, bukan bir, dilihat dari bahan dan prosedur produksi.
Lalu mengapa memberikan sampel Frink kepada Ahok? Karena Ahok adalah pemegang saham ex officio (Gubernur DKI) pada BUMD PT Delta Djakarta, Tbk. Pemprov DKI diketahui memiliki saham sebesar 26,25 persen di BUMD PT Delta Djakarta. Perusahaan daerah ini merupakan pemegang lisensi produksi dan distribusi beberapa merek bir internasional, seperti Anker Bir, Carlsberg, San Miguel, dan Stout.
Tujuan meminta Ahok mencoba Frink adalah agar Ahok tahu ada alternatif minuman selain bir, yang rasanya mirip tetapi memiliki manfaat dan khasiat yang luar biasa. Selain itu “penemuan” ini juga dapat meningkatkan laba BUMDnya itu karena menghemat biaya produksi, jika bir tetap diproduksi.
Produksi bir masih sangat ketergantungan pada impor bahan-bahan pembuatnya. Antara lain bunga hop (Humulus lupulus) untuk memberikan rasa pahit. Nah ini yang saya ingin usulkan, yaitu mengganti bunga hop itu dengan daun afrika (Vernonia amygdalina) pada produksi bir Ahok.
Hop hanya bisa dibudidayakan di negara dengan 4 musim. Seorang Jerman yang menjadi konsultan Kadinda Kota Bandung mengatakan bahwa Australia adalah negara penghasil dan pengekspor hop utama dunia. Bahkan orang Jerman juga harus mengimpor dari Australia, katanya.
Saya sudah mencoba membuat banyak variasi minuman dengan bahan utama daun afrika ini. Bahan bakunya adalah gula pasir (karena saya tidak punya malt, anggur, atau nira), air, dan daun afrika. Seluruh bahan itu direbus bersama, lalu setelah dingin saya mencampurnya dengan ragi dan bakteri yang biasa digunakan dalam pembuatan kombucha. Karena itu saya kira ini bukan bir.
Bagaimana rasanya? Perpaduan antara masam, manis, dan pahitnya bir, olala. Tentu saja hasil produksi di dapur ini tidak konsisten rasanya. Ahok yang punya pabrik bir perlu mencoba dengan langkah yang lebih serius dan baku. Ya itu tadi, yang berubah hanya subtitusi hop dengan daun afrika yang dapat kita budidayakan secara luas di negeri sendiri.
Jika Ahok berhasil membuat bir gaya baru ini, dan jika Menteri Rachmat Gobel tetap memaksa melarang produksi bir di DKI (dan kita berharap bukan dengan maksud memasukkan bir asal Jepun, misalnya), maka Ahok bisa terus memroduksi bir untuk ekspor saja untuk meraup devisa. Siapa tahu warga dunia penggemar bir banyak yang mau beralih ke bir baru tanpa hop ini. Ingat, kelebihan penggunaan daun afrika ialah selain ada sensasi pahit yang eksotik, tumbuhan ini punya khasiat kesehatan.
Silakan baca artikel lainnya mengenai daun afrika di kompasiana.

0 komentar:

Posting Komentar